Sabtu, 10 Januari 2015



KESPRO
MENJARING PESERTA PAPSMEAR
DEMI PENEMUAN DINI CA CERVIKS

       Dengan memanfaatkan dana BOK 2014 Puskesmas Sambeng melalui program Kespro menjalankan program penyuluhan see and treath di desa Kedung Wangi pada tanggal 18 Oktober 2014 yang dihadiri sekitar 30 orang. Sedang untuk kegiatan papsmear dilaksanakan setiap hari Kamis di Puskesmas Sambeng dengan kunjungan rata-rata 5 orang/hari. Jumlah kunjungan paasmear untuk satu tahun terakhir adalah 17 orang. Sedang yang dilayani oleh BPJS terdapat 111 orang.
Pap Smear, Prosedur dan Manfaatnya
Apa itu Pap Smear?
        Papanikolaou test atau Pap smear adalah metode screning ginekologi, dicetuskan oleh Georgios Papanikolaou, untuk menemukan proses-proses premalignant dan malignant di ectocervix, dan infeksi dalam endocervix dan endometrium. Pap smear digunakan untuk mendeteksi kanker rahim yang disebabkan oleh human papillomavirus atau HPV. Menurut perkiraan, di Inggris Pap smear mencegah sekitar 700 kematian per tahun. Wanita yang aktif secara seksual disarankan menjalani Pap smear sekali setahun.
prosedur pemeriksaan :
      Dokter, bidan atau perawat memasukkan speculum ke vagina pasien untuk mengambil scret sebagai sample dari cervix. Pap smear biasanya tidak dilakukan selama menstruasi. Prosedur ini dapat menimbulkan sedikit rasa sakit, namun hal ini bergantung kepada anatomi pasien, faktor psikologi, dan lain-lain. Sample kemudian diuji di laboratorium dan hasil diperoleh dalam waktu sekitar 1 minggu. Sedikit pendarahan, kram, dan lain-lain dapat terjadi sesudahnya, walau tidak semua demikian.
Kapan Melakukan Pap Smear?
       Pemeriksaan Pap Smear dilakukan paling tidak setahun sekali bagi wanita yang sudah menikah atau yang telah melakukan hubungan seksual. Para wanita sebaiknya memeriksakan diri sampai usia 70 tahun. Pap Smear dapat dilakukan kapan saja, kecuali pada masa haid. Persiapan pasien untuk melakukan Pap Smear adalah tidak sedang haid, tidak melakukan hubungan sexual 1 – 3 hari sebelum pemeriksaan dilakukan dan tidak sedang menggunakan obat – obatan vaginal, tidak sedang meminum anti biotik.
Biaya yang dibutuhkan untuk Pap Smear
Biaya yang dibutuhkan pap smear khususnya di puskesmas Sambeng Rp. 100,000, .untuk peserta BPJS gratis. sedang papsmear yang dilaksanakan oleh YKI biaya jauh lebih ringan karena sebagian biaya dibantu oleh YKI
Hasil  Pap Smear :
Jika hasilnya normal, maka tentu alhamdulillaah, nah adapun jika hasilnya ada menunjukkan displasia serviks, maka kita mesti mulai mewaspadai dan memberikan ekstra perhatian.
1. Pra Kanker Serviks
Yang dimaksud dengan pra-kanker servik (Displasia Servik) adalah ketika hasil test Pap Smear menunjukkan adanya sel-sel abnormal pada permukaan leher rahim (servik) di bawah mikroskop.
Walaupun memerlukan waktu lebih dari 10 tahun sebelum berubah menjadi kanker servik, hal ini perlu diwaspadai. Karena bila displasia servik ditangani secara dini, dapat mencegah terjadinya kanker servik di kemudian hari.
Kondisi pra-kanker servik (displasia servik) ini digambarkan dengan menggunakan istilah Squamous Intraepithelial Lesion (SIL), yang biasanya dinilai sebagai berikut:
         * Low-grade (LSIL)
         * High-grade (HSIL)
         * Mungkin kanker (ganas)
Bila hasil test Pap Smear kurang baik, biasanya dokter akan menyarankan dilakukannya tes HPV DNA ataupun biopsy untuk melihat tanda-tanda kanker servik. Displasia yang terlihat pada biopsi leher rahim menggunakan istilah cervical Intraepithelial neoplacia(CIN), dan dikelompokkan menjadi tiga kategori:
         * CIN I - displasia ringan
         * CIN II - moderat hingga displasia ditandai (marked displacia)
         * CIN III - displasia berat hingga pra-kanker servik
Penyebab Pra-Kanker Servik
Sebagian besar kasus displasia servik terjadi pada wanita usia 25 - 35, meskipun dapat berkembang pada usia berapa pun. Hampir semua kasus displasia servik atau kanker servik disebabkan oleh virus HPV yang ditularkan melalui hubungan seksual.
Hal-hal yang dapat meningkatkan resiko terjadinya displasia servik:
            - wanita yang aktif secara seksual sebelum usia 18 tahun
            - melahirkan sebelum usia 16 tahun
            - memiliki banyak pasangan zina
            - menggunakan obat-obat yang menekan daya tahan tubuh (immunosuppressant)
            - merokok
Pengobatan Pra-Kanker Servik
Tanpa pengobatan, 30 - 50% kasus displasia servik parah dapat menjadi kanker servik invasif. Resiko kanker servik lebih rendah untuk displasia ringan. Pengobatan tergantung pada tingkat displasia.
Displasia servik ringan (LSIL atau CIN I) mungkin akan hilang dengan sendirinya. Anda hanya perlu mengulang test Pap smear setiap 3 - 6 bulan. Jika berulang selama 2 tahun, pengobatan biasanya dianjurkan. Pengobatan untuk displasia servik sedang sampai parah atau displasia servik ringan yang berulang bisa meliputi:
          * Cryosurgery
          * Electrocauterization
          * Penguapan laser untuk menghancurkan jaringan abnormal
          * LEEP prosedur menggunakan electrocauter untuk mengangkat jaringan abnormal
          * Operasi untuk mengangkat jaringan abnormal (cone biopsy)
Pencegahan Pra-Kanker Servik
 - Vaksinasi HPV dapat dipertimbangkan untuk mencegah terjadinya pra-kanker servik. Gadis       yang menerima vaksinasi HPV sebelum mereka menjadi aktif secara seksual dapat menurunkan resiko mereka terkena kanker servik sebesar 70%.
- Jangan berhubungan badan dengan pasangan yang tidak sah (berzina)
- Jangan merokok dan meminum alkohol
- Jaga kebersihan mrs V dengan bahan2 alamiah dan steril
Para ilmuwan Universitas Johns Hopkins di Baltimore, Maryland, telah memperluas fungsi tes papsmear untuk mencari kelainan genetik yang berhubungan dengan kanker ovarium atau indung telur dan kanker endometrium atau lapisan dinding rahim. Di Amerika, kedua kanker itu didiagnosis pada sekitar 70.000 perempuan setiap tahun, dan tumor itu membunuh sekitar sepertiga dari mereka.
          Saat ini belum ada tes untuk kedua kanker itu. Namun, para peneliti menemukan bahwa tumor endometrium dan ovarium melepaskan DNA abnormal yang dapat dideteksi di antara sel-sel sehat dalam cairan yang diambil dari leher rahim.
Dengan menggunakan penelitian hubungan genome yang luas, para peneliti Hopkins mengidentifikasi 12 gen yang paling umum bermutasi dalam kedua kanker itu sehingga dapat dikenali lewat papsmear rutin.
Tes baru yang disebut PapGene digunakan untuk memeriksa sel leher rahim dari 24 perempuan yang menderita kanker endometrium. Penyakit itu dideteksi dengan kejituan 100 persen.
Namun, Isaac Kinde, salah seorang peneliti di Sidney Kimmel Comprehensive Cancer Center, Johns Hopkins, mengatakan PapGene hanya mendeteksi 9 dari 22 kanker ovarium pada pasien yang menderita penyakit itu, tingkat akurasi yang relatif rendah, hanya 41 persen.
Kata Kinde, kanker ovarium mungkin lebih sulit dideteksi karena lokasinya. "Saya kira penjelasan yang paling mungkin untuk hasil itu adalah fakta bahwa sel kanker ovarium harus berjalan jauh untuk sampai ke leher rahim," ujarnya seperti dikutip voaindonesia.
Menurut Kinde, para peneliti sedang membuat PapGene yang lebih sensitif untuk mendeteksi kanker ovarium.
Ia berharap satu waktu nanti tes rutin papsmear digunakan untuk mendeteksi ketiga jenis kanker yang menyerang kaum perempuan itu. "Itulah impian sejak awal. Kami tahu itu tujuannya. Dari sudut pandang pasien, dan dokter ginekologi, tidak ada yang berubah. Itu adalah papsmear rutin dan pada dasarnya hanya kotak lain yang dipilih jika Anda ingin menemukan kanker endometrium dan ovarium," paparnya

Perkembangan dari infeksi HPV onkogenik menjadi kanker serviks dapat terjadi apabila terjadi infeksi yang menetap dari beberapa sel yang terdapat pada serviks (sel epitel pipih atau lonjong di zona transformasi serviks). Sel - sel ini sangat rentan terhadap infeksi HPV dan ketika terinfeksi, akan berlipat ganda, berkembang melampaui batas wajar dan kehilangan kemampuannya untuk memperbaiki abnormalitas genetiknya.
Hal ini akan mengubah susunan sel dalam serviks. Virus HPV akan bercampur dengan sistem peringatan yang memicu respons imun yang seharusnya menghancurkan sel abnormal yang terinfeksi oleh virus. Perkembangan sel yang tidak normal pada epitel serviks dapat berkembang menjadi pra kanker yang disebut juga sebagai cervical intraepithelial neoplasia (CIN).
Apabila memperhatikan infeksi HPV onkogenik yang persisten maka ditemukan tiga pola utama pada pra kanker, dimulai dengan infeksi pada sel serta perkembangan sel - sel abnormal yang dapat berlanjut menjadi intraepithelial neoplasia dan pada akhirnya menjadi kanker serviks.
  • Cervical intraepithelial neoplasia I (CIN I) atau low grade squamous intraepithelial lesions (LSILs). Dalam tahap ini  terjadi perubahan yaitu sel yang terinfeksi HPV onkogenik akan membuat partikel - partikel virus baru.
  • Cervical intraepithelial neoplasia II (CIN II) atau high grade squamous intraepithelial lesions (HSILs). Dalam tahap ini sel - sel semakin menunjukkan gejala abnormal pra kanker.
  • Cervical intraepithelial neoplasia III (CIN III). Dalam tahap ini lapisan permukaan serviks dipenuhi dengan sel - sel  abnormal dan semakin menjadi abnormal.
  • Infeksi persisten dengan HPV onkogenik dapat berkembang menjadi atau menunjukkan kehadiran lesi pra kanker  seperti CIN I,II, dan III dan carcinoma in situ (CIS).
  • Kanker serviks yang semakin invasif yang berkembang dari CIN III.  




  •  
  •        

  • Cara terbaik adalah tidak menunggu sampai gejala muncul. Lakukan tes Pap Smear dan pemeriksaan panggul secara teratur.